Blog ini hanya sebuah Blog yang isinya banyak bercerita mengenai kejadian-kejadian yang sering terjadi diantara kita semua sebagai seorang manusia..
Saya dan teman saya yang berperan sebagai administrator blog ini ingin mencoba mengungapkan pemikiran-pemikiran yang kami dapatkan selama kami hidup..

Kami harap semoga Blog ini cukup mewakili perasaan ataupun pemikiran kalian..

Jangan takut untuk meninggalkan komen..

Cheers..

Friday, December 11, 2009

Maaf, setulus hati gw minta maaf...

Gw jadi serba salah. Siapa bilang gw gak merasa bersalah? Gw tau kok gw salah. Gw udah minta maaf, meskipun gw tw cara gw salah, judging by your reaction. I just don't think that it'll be that big-a-deal. I'm sorry, my judgement was wrong.

Lo terlihat sekali terganggu akan ketidakpekaan gw atas alasan kenapa lo marah, karena jujur gw gak tau, dan gw waktu itu gw mulai paham kalo itu akumulasi. Gw minta maaf untuk semuanya. Gw melakukan itu bukan karena apa-apa atau kenapa2, tapi gw just simply busy, dan keegoisan gw lah itu, dan gw minta maaf untuk itu.

Gw pikir, i'd lost you, as my bestfriend, even as a mere friend. Dan gw jujur kesel akan hal itu. Sebegitu beratkah kesalahan gw sampe gw harus kehilangan lo? Seberat itukah? Gw masih belum bisa nrima, tapi gw sudah mulai berdamai dengan itu. Mungkin memang kesalahan gw terlalu berat sehingga gw harus menerima hukuman itu. Kehilangan sahabat terbaik gw. Yah sudahlah, begitu gw berfikir.

Lalu kejadian itu terjadi. Gw berantem sama dia. Gw berantem sama dia dengan masalah yang beda tipis sama lo. Mulut gw terlalu biadab dan kadang-kadang secara tidak sadar dan spontan melukai orang lain tanpa tau akibatnya. Di otak gw, hancurlah gw. Gw sudah kehilangan sahabat terbaik gw, dan gw sepertinya akan kehilangan love of my life. Reaksinya dya begitu membuat gw trauma. Lo paling tau itu. Lalu gw melihat apa yang lo katakan padanya di situs itu. Hahahahaha. Lo bilang gitu. Oke, gw pantes mendapatkannya. Fuck it, gw butuh lo. Lo dan hanya lo. Gw nangis. Dan gw gak mau nangis depan orang lain selain lo. Gw jatuh dari motor pas wanita gw bilang bahwa dia bakal ninggalin gw dan gw gak bisa memperbaiki hubungan gw dan dia. Gw ngadu ke lo. Gw butuh lo.

Dia nelvn, dan kami bertengkar dan berargumen dan berantem dan gw menangis. Kami berbaikan, kami bilang saling sayang. Gw minta maaf sama dia, dia bilang jangan ulangin lagi, gw bilang gw berusaha keras untuk itu. Gw tidur, dia juga.

Gw tetep pengen ktemu lo. Gw pengen cerita. Gw tau lo masih kesel sama gw, tapi gw jujur berharap setidak-tidaknya kita sanggup untuk berbicara, tidak perlu bercerita. Tampaknya harapan gw mendapat sambutan, karena lo sudah mau texting. Gw lega campur seneng lo ngtext gw suruh nonton lo. Gw siap cuma ngomong sepatah-dua patah kata dan lo cuma ngangguk.
Gw ktemu beliau di jalan,dan dia nyuruh bareng aja, dan beliau langsung nanya soal wanita gw. Gw cerita ke dya.

Pas masuk ke tempat itu, semua temen lo nyapa gw gara-gara udah lama gak ktemu. Gw sapa balik. Lo gw liatin. Terus menerus. Gw berharap kita setidak-tidaknya kontak mata seperti yang biasa kita lakukan dan langsung paham maksud masing-masing. Gw manggil lo sekali. Lo gak denger. Gw takut dan gak enak, bagaimanapun ini tempat lo. Gw tunggu beberapa saat sambil berbicara dengan beliau. Gw ngmg lagi ke lo memuji penampilan babak pertama. Lo tetep gak gubris. Gw mikir lo mungkin gak denger, tapi tetep gw tambah takut. Sepanjang saat itu, gw ngeliatin lo terus, berharap terjadi sekedar kontak mata aja, udah cukup. Sekedar kontak mata, gw bakal tau lo udah sanggup setidak-tidaknya nyapa gw. Itu gak kejadian. Sampai selesai gak kejadian. Gw tw, lo masih benci banget sama gw. Semua bahasa tubuh lo menandakan itu. Sepanjang gw disitu. Gw tw. Mungkin dulu gw gak tau diri, tapi sekarang tau diri, gw yang nyingkir. Gw menyimpulkan, lo belum bisa ngeliat muka gw. Gw cukup tau diri. Yah udahlah.

Gw gak nganggep lo sahabat gw pada saat gw butuh doang. Gak pernah. Kalo gw mengesankan itu, gw minta maaf, lo yang paling tau kalo kadang2 gw emang gak tau diri.

Semua emang berubah. Kita masing-masing punya dunia yang kita kejar masing-masing, dan kita berdua tau itu. Mungkin cara gw salah dan gw tidak sadar melakukan penjauhan dari lo, gw gak bermaksud, dan gw minta maaf untuk itu. Gw mungkin bukan sahabat lo lagi, not even a pen friend i guess. But for me, you are still my bestfriend, no one else would be, and even you can't take that fact away.

Gw kangen sama lo, jujur banget sejujurnya. Tapi gw udah terlanjur ngerasa bahwa inilah hukuman buat gw, kehilangan seorang sahabat, supaya ke depannya gw lebih ngejaga hubungan dan paling penting omongan dari mulut comel gw ini. Dan gw trima secara pasrah hukuman itu. Gw gak kangen sama apa yang kita lewati, karena kita tau itu hanya sperti buku yang kapan-kapan bisa kita lihat lagi. Gw kangen sama janji-janji yang kita ikrakan untuk kita lakukan sama-sama. Semua rencana-rencana di masa depan. Itu yang paling gw kangen, dan sampai saat ini amat sangat ingin gw tepati. Makanya gw menghebatkan diri untuk itu, dengan semua yag gw lakukan sekarang, yang sepertinya membuat gw lupa akan lo.

Maaf kalo tampaknya gw memilih untuk menjalani jalur yang berbeda. Gw tidak bermaksud. Gw cuma berfikir gw harus bersiap untuk sprint nanti, karena lo dan wanita gw akan melang-lang buana menghebatkan diri kalian, dan gw berusaha buat catch-up, dan dengan egois menghebatkan diri sendiri. Maaf untuk itu. You'll never be a stranger to me. never. Kalo gw megesankan seperti itu, gw minta maaf setulus hati.

Hahaha, the problems kinda solved itself. Thank's God. Tapi bisa mendengar suara lo cekikikan nyindir gw memberikan gw kekuatan tersendiri.

I'm always cheering you up; win, lose, or draw. Always. I'm there when you were winning, i watched it all the way. But all i can think of is how you hate me so much, and how you can't stand having me around.

Kalo gw terlihat cuek dan hampir gak peduli dan gak mau usaha untuk memperbaiki dan menebus kesalahan gw, gw semata-mata merasa ini merupakan sebuah hukuman, kehilangan seorang sahabat, dan percayalah, hukuman ini berat; meskpipun tidak terlihat seperti itu. Berat sekali. Dan gw lelah. Kehilangan sahabat untuk berbagi, mencoba memecahkan, dan akhirnya menertawakan masalah ini dengan gaya khas kami yang masa bodo. Gw jadi nanggung ini sendirian, saat semua masalah datang ke gw secara bertubi-tubi dan berkesinambungan. Egois memang, karena gw gak tau apa yg lo rasakan. Gw cuma pengen lo tau, bahwa arti lo dalam hidup gw gak berubah se-upil pun.

For everything that already happened, I'm sorry.
For everything that should happened and didn't, I'm sorry.
For everything, I'm sorry.

Dan pada saat semua berangsur-angsur kembali, semua masalah satu-persatu terselesaikan, yang gw pikirkan cuma satu, yaitu gimana caranya setidak-setidak-tidaknya kita bisa saling sapa.

Meskipun kelihatannya gw tlalu berharap bisa ngomong lagi sama lo, biarlah. Gw merasa gw hanya pantas untuk berharap gw bisa berubah, supaya gw gak kehilangan orang sepenting lo lagi.

Maaf...


untuk pm.23.

No comments: