Mari kita lnjutkan ceritanya.....
Kejadian yang terjadi antara gw sama si mantan akhirnya gw ceritain sama 1 orang temen gw yang kbetulan jg temennya mantan yang kebetulan lagi liburan. Setelah cerita panjang lebar akhirnya gw minta tolong sama dy untuk campur tangan. Ternyata temen gw ini juga tempat si mantan curhat soal kejadian ini juga.
Gw juga lupa ceritanya gmn, akhirnya gw membuka sebab musabab kenapa gw putus. Akan amat sangat panjang dan buang2 waktu apabila gw menceritakan kenapa gw putus secara detail, tetapi intinya adalah dy memberikan gw kesan melalui pernyataannya bahwa gw “melecehkannya” dengan melakukan kontak fisik standar-pacar dengannya, you know like huging, holding hands, etc; selama gw jalan atau ketemuan; dan hal itu membuat gw tersinggung. Inilah yang memulai. Si temen gw ini merasa aneh dengan kelakuan mantan gw ini, dan gw pastinya setuju.
Selidik punya selidik, akhirnya temen gw mendapatkan penjelasan langsung dari si mantan. Ternyata dy melakukan itu dengan sengaja, yaitu meminta gw untuk tidak memeluknya lagi, dan daerah sekitarnya, karena sepertinya dia merasa itu sesuatu yang salah dan berdosa. Dy merasa karena gw backstreet, beda agama pula, menjadi sebuah dosa yang amat besar apabila gw melakukan hal2 yang tersebut diatas; apalagi kalo dy sudah mulai berkelit untuk menyembunyikan hubungan kami dihadapan dengan kedua orang tuanya, well, lebih2 ke nyokapnya yang secara ekstrem amat sangat ditakuti oleh mantan gw ini. Lebih parah lagi, dy bilang dy berniat untuk mundur perlahan2 sampai akhirnya gw terbiasa untuk jauh dan tidak ketemuan. Disini gw tangkep dy memang sudah merencanakan untuk membuat gw bosan, dan akhirnya putus. Mengetahui semua hal ini, gw benar2 terpukul. Wanita seluarbiasa dy ternyata setega dan sepicik ini. Ya sudahlah.
Memang isi curhatan gw dan si mantan kepada temen gw itu tidak sesingkat ini, tapi inilah klimaksnya. Fakta ini membuat gw mulai berfikir. Dan setelah gw berfikir, gw mulai kecewa, karena gw bener2 gak nyangka ternyata jalan pikiran dy seperti itu. Memang waktu gw baru jadian, gw emang ngerasa dy gak segitunya ke gw. Tapi setelah 6 bulan “masa tutoring pacaran” ke dy, 3 bulan berikutnya adalah masa-masa dy menjadi pacar yang amat sangat luar biasa, dan gw yakin pada titik ini dy udah sayang sama gw. But, damn.... Setelah mengetahui hal ini, gw jadi ngerasa, gak ada satu pun fase di hubungan gw dan dia yang bener2 dia nikmati secara jujur. Gak satu kalipun dia pernah sayang sama gw. Entah apa perasaan gw yang salah karena terlalu GR, atau emang dy yang menunjukkan kepalsuan. Either way, gw tetep benar2 kecewa.
Sampailah gw pada titik dimana gw bertekad untuk melupakannya. Dengan rasa sakit hati yang baru gw terima, gw coba untuk tidak menghiraukan perasaan gw yang masih sayang sama dy dan mulai mencoba berfikir logis untuk mencari berbagai alasan, bahkan sampai keburukan2 apa saja yang bisa gw simpulkan dari dy; dengan harapan dapat melupakannya...
Ternyata? Masih belum bisa, tapi ada progress lah dikit2, hehehe....
2 B Continued...
Kejadian yang terjadi antara gw sama si mantan akhirnya gw ceritain sama 1 orang temen gw yang kbetulan jg temennya mantan yang kebetulan lagi liburan. Setelah cerita panjang lebar akhirnya gw minta tolong sama dy untuk campur tangan. Ternyata temen gw ini juga tempat si mantan curhat soal kejadian ini juga.
Gw juga lupa ceritanya gmn, akhirnya gw membuka sebab musabab kenapa gw putus. Akan amat sangat panjang dan buang2 waktu apabila gw menceritakan kenapa gw putus secara detail, tetapi intinya adalah dy memberikan gw kesan melalui pernyataannya bahwa gw “melecehkannya” dengan melakukan kontak fisik standar-pacar dengannya, you know like huging, holding hands, etc; selama gw jalan atau ketemuan; dan hal itu membuat gw tersinggung. Inilah yang memulai. Si temen gw ini merasa aneh dengan kelakuan mantan gw ini, dan gw pastinya setuju.
Selidik punya selidik, akhirnya temen gw mendapatkan penjelasan langsung dari si mantan. Ternyata dy melakukan itu dengan sengaja, yaitu meminta gw untuk tidak memeluknya lagi, dan daerah sekitarnya, karena sepertinya dia merasa itu sesuatu yang salah dan berdosa. Dy merasa karena gw backstreet, beda agama pula, menjadi sebuah dosa yang amat besar apabila gw melakukan hal2 yang tersebut diatas; apalagi kalo dy sudah mulai berkelit untuk menyembunyikan hubungan kami dihadapan dengan kedua orang tuanya, well, lebih2 ke nyokapnya yang secara ekstrem amat sangat ditakuti oleh mantan gw ini. Lebih parah lagi, dy bilang dy berniat untuk mundur perlahan2 sampai akhirnya gw terbiasa untuk jauh dan tidak ketemuan. Disini gw tangkep dy memang sudah merencanakan untuk membuat gw bosan, dan akhirnya putus. Mengetahui semua hal ini, gw benar2 terpukul. Wanita seluarbiasa dy ternyata setega dan sepicik ini. Ya sudahlah.
Memang isi curhatan gw dan si mantan kepada temen gw itu tidak sesingkat ini, tapi inilah klimaksnya. Fakta ini membuat gw mulai berfikir. Dan setelah gw berfikir, gw mulai kecewa, karena gw bener2 gak nyangka ternyata jalan pikiran dy seperti itu. Memang waktu gw baru jadian, gw emang ngerasa dy gak segitunya ke gw. Tapi setelah 6 bulan “masa tutoring pacaran” ke dy, 3 bulan berikutnya adalah masa-masa dy menjadi pacar yang amat sangat luar biasa, dan gw yakin pada titik ini dy udah sayang sama gw. But, damn.... Setelah mengetahui hal ini, gw jadi ngerasa, gak ada satu pun fase di hubungan gw dan dia yang bener2 dia nikmati secara jujur. Gak satu kalipun dia pernah sayang sama gw. Entah apa perasaan gw yang salah karena terlalu GR, atau emang dy yang menunjukkan kepalsuan. Either way, gw tetep benar2 kecewa.
Sampailah gw pada titik dimana gw bertekad untuk melupakannya. Dengan rasa sakit hati yang baru gw terima, gw coba untuk tidak menghiraukan perasaan gw yang masih sayang sama dy dan mulai mencoba berfikir logis untuk mencari berbagai alasan, bahkan sampai keburukan2 apa saja yang bisa gw simpulkan dari dy; dengan harapan dapat melupakannya...
Ternyata? Masih belum bisa, tapi ada progress lah dikit2, hehehe....
2 B Continued...
No comments:
Post a Comment