Gw pribadi amat menyukai persoalan ini, karena dari pengalaman, emang lebih enak tanpa status karena lo bisa mesra2n sama sahabat lo tanpa ada orang yang berfikir aneh2, ya toh lo sahabat. Lagipula ada kesenengan tersendiri jadi admirer sahabat lo sendiri. Justru yang menyebalkan adalah pada saat sahabat lo yang lo taksir diam2 itu mulai cerita soal cowo lain. Pasti ada lah rasa-rasa sesak2 di dada. Dan itu mulai membuat lo berfikir, kalo selama ini dia nyaman sama lo karena lo gak melangkah lebih jauh dari itu, padahal lo mendam rasa, trus semua pikiran itu membuat lo lemes dan males…
Gw pribadi pernah ngerasain ini sama cinta pertama gw waktu SMA, mari kita sebut wanita ini bernama Made (seperti biasa, samaran). Mungkin gw gak bisa dibilang sohiban bgt sama dia, tapi menurut gw udah akrablah, ama bokapnya aja menurut gw pribadi gw udah kenal. Made ini cantik banget, jadi secara tampilan gw emang amat sangat tidak pantas sama dia kalo dijejerin. Trus anaknya asik, lucu, heboh, sama gampang senyum/tawa. Tapi yang membuat gw jatuh hati adalah kalo misalnya dia tersipu sama matanya; belo, berbinar dan membunuh. Kenapa gw bisa bilang akrab? Well, sering curhatlah, dan menurut gw nyambung aja cara gw berfikir, bercanda dan berbicara dengan dia. Begitu menariknya dy, gw amat-amat salut sama dy.
Pada waktu itu adlh suatu kejadian yang memaksa gw untuk harus memilih, hanya bisa memperhatikannya secara frontal sebatas sahabat, tapi sebenarnya memendam rasa yang menggebu-gebu. Pada waktu itu dy membutuhkan ssorang sahabat yang bisa memberikannya alternative pemikiran lain untuk masalah2nya. Karena memang gw amat sangat sadar bahwa gw sama sekali tidak pantas dengan dia, berlakulah gw seperti secret admirer kaya di lagu2… Semakin lama berjalan, justru gw yang lelah mengaguminya. Apalagi ngeliat dia punya cowo 3 biji dlm 1 tahun. Terlalu takut untuk melangkah lebih jauh ditambah dengan rasa tidak pantas itu membuat gw menjadi pecundang, Cuma bisa melihat dari jauh namun tetap memberikan pembenaran pada diri gw sendiri bahwa memang itu yang dia butuhkan.
Ya itu dia tadi… Made membutuhkan a shoulder to cry on, yaitu tempat dimana bisa menangis, berkeluh kesah, bahkan curhat tentang pacar2nya yg begitu dreamy. Gw yang begitu amat menyukai dan mengaguminya memilih untuk menjadi seperti itu, daripada gw sama sekali tidak bisa dekat sama dy. Hal ini samapi saat ini gw sesali, karena akhirnya gw ngejauh sama dy. Bagaimanapun seorang gw seharusnya menjadi seorang gentleman dan membeberkan perasaan gw ke dy. Alesan pertemanan itu bukan menjadi penghalang, tapi justru jadi alasan utama perasaan cinta terpendam itu diutarakan.
Lalu apa sih yang sebenarnya pengen gw omongin? Sederhana aja. Jangan sampai pertemanan bahkan persahabatan menghalangi lo untuk jatuh cinta sama teman dan sahabat lo sendiri. Justru merekalah orang2 yang paling eligible dan adequate buat jadi pasangan lo. Gak adalah istilah kelamaan temenan, atau kelamaan PDKT jadi lebih enak sahabatan atau kakak-adekan. Itu semua hanyalah alasan yang kita buat2 karena kita terlalu takut akan apa akibatnya. Kebanyakan mereka takut kalo mereka berantem atau putus, ntar g bisa temenan lagi. Lebih absurp lagi ada seseorang yang bilang jangan sampe dia jatuh cinta sama seseorang karena takut gak bisa lepas. (ini kasus pribadi, hehehe…) Tapi gw pernah baca tulisan teman gw yang menceritakan pengalaman temennya. Temennya jatuh cinta sama sahabatnya sendiri, terus ngaku. Trus sahabtnya itu bilang kurang lebih seperti ini: “gw gak mungkin jatuh cinta sama lo. Bayangin aja, gw selalu curhat ttg pacar gw ke lo, baik buruknya luar dalam. Kalo lo yang jadi pacar gw, gw harus ngeluh ke siapa kalo gw sebel sama lo?” Sebuah alasan yang baik, Cuma tetap bgi saya itu tidak berlaku.
Sebenernya mana yang lo butuhkan? A shoulder from your best-friend to cry on or a shoulder from your boyfriend to lean to? Security or comfort? Save or love? Or both?
Percayalah, pacar itu Cuma sebuah status yang membuat lo siap menyerahkan hati lo kepada orang lain untuk dicintai dan mencintai bahkan disakiti. Lalu kenapa gak lo serahkan saja hati lo ke sahabat lo? Might be he/she be the shoulder for you to cry on and also to lean on…